Rabu, 23 Mei 2012

KETIKA TUHAN MENCIPTAKAN WANITA  

Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
“Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?”
Tuhan menjawab,
“Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?” Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan“.

Malaikat menjawab dan takjub,
“Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!
Tuhan menjawab,
“Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari“.

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
“Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”
Tuhan menjawab,
“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa?“, tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan,
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.”

“Cintanya tanpa syarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, Dia sering lupa betapa berharganya dia ..”

(ini cerita fiktif untuk renungan) Dunia Pustaka

Minggu, 29 April 2012

Tik..tik Gerbong Rangkasjaya

 
oleh: Abdurrahman Harits 
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1252323753082.2032848.1379183287&type=1&notif_t=photo_album_reply#!/kang.harits/posts/3804128191351?notif_t=feed_comment_reply
di gerbong kereta rangkasjaya

satu persatu detik berguguran kawan,
ya berguguran..
tik..tik..
ia lewat begitu saja, tanpa peduli saya, anda dan siapapun
santai.. namun dengan konstan berjalan
ya.. 1 detik, tak lain 1 detik
besaran fisika yang mendefinisikan jalannya waktu
dan sayapun tersenyum

cerita ini berlanjut..

sudah berapakah umur kisanak?
lahir tahun berapa??
21?24?31
atau sebentar lagi 50??

terkadang saya malu untuk berkata tentang umur saya,
kemaluan akan waktu yang terlewat begitu saja
tanpa menoreh banyak karya
tanpa karya.. hanya hidup biasa..
dan tanpa ibadah yang berarti..
si kerdil..

malam tadi,
terbuka sibak tentang hakikat jenis manusia berdasarkan
tujuan hidupnya.
ustad muda, menyiram kami dengan cerita.
tenang tujuan hidupnya mereka..
tujuanmu, tujuanku.. mungkin berbeda.. papar sang ustad
"apa tujuan hidupmu??"
hening.. tak ada yang mau menjawab
menunggu..
dan ia angkat suara, menjawab pertanyaanya sendiri
"4 golongan, ya 4 jenis golongan.."

jenis manusia pertama adalah
"manusia ragu"
ya.. ragu akan tujuan hidupnya.
gamang..
mungkin tak mau memilih, atau karena banyak pertimbangan
mungkin kata mereka
"jika aku begini.. maka aku begitu.."
"ah tidak"
"sepertinya ini enak.. tapi..."
"tidak..tidak..."
"apa saya begini saja ya"
"mmmm...."
akhirnya tak punya tujuan hidup

jenis manusia kedua adalah :
arogan
ya arogan..tak kenal yg lain, dia berpikir selalu benar (menurut pandangannya).
"ini yang menurut saya benar"
"saya selalu benar kan?"
"tuh saya sudah benar memilih ..."
"dan jadilah kalian seperti saya..."
bayangkan sejenis apa makhluk arogan kawan..
apa kita, aku dan kamu adalah orang arogan??
dan ini tujuan hidup saya.. saya yang menentukan..

jenis manusia ke-3 adalah manusia oportunis
opor-tunis
opor itu enak. jadi manusia yang suka enak-enak saja.
memang fitrah manusia untuk menyukai yang enak, mudah
dan menjauhi yang sulit
"yang penting senang.."
"ini membuatku lebih senang.."
"saya bisa kaya dengan ini.. muda foya-foya, tua kaya raya"
ya.. dunia memang syurga untuk orang oprtunis.
salahkah saya mendefinisikan orang oportunis?
yang jelas tujuan hidupnya sang oportunis adalah..
kesenangan diri..

jenis manusia ke-4, terakhir adalah
mukmin
ya.. manusia yang hanya memiliki 1 tujuan
ia tenang bersama Allah, dalam semangat maupun dalam kesendirian
ia tak pernah dibiarkan untuk berada dalam kemudahan
karena sejatinya ketenangan itu tidak teruji dalam keadaan datar
tujuan hidupnya sederhana..
karena hendak beribadah kepada Tuhannya.
ia berdagang, lillah.. karena hendak beribadah..
ia berinfak, mengeluarkan hartanya.. lillah..
ia berjalan.. lillah
ia belajar.. lillah..
ia ada bersama tuhannya..

maka sudahkah menetapkan tujuan hidupmu wahai kawanku?

jangan sampai detik berlalu bgitu selesai kau baca tulisanku ini
dengan begitu saja..
tik..tik..
dan kau pun tak berubah..
tak berani merubah konstan tujuan hidupmu

-masmas40

Kamis, 26 April 2012

Di suatu jaman, di suatu tempat. Di suatu siang, di atas bukit dengan rumput-rumput hijau yang terpotong rapi, terdapat puluhan hewan ternak yang tampak sedang asyik merumput.

“Hei, kawan apa kabar?!” Sapa seorang lelaki berusia pertengahan dengan tiba-tiba pada seorang pemuda tanggung yang sedang berteduh tak jauh dari hewan-hewan tersebut.

Pemuda tersebut terkejut oleh tepukan di bahunya yang keras, segera menoleh ke sumber suara. Matanya menjadi terbelalak. Ia tak percaya pada tatapannya. Seseorang yang telah lama tak dijumpainya tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kau! Si pengembara bukan? Astaga, telah lama sekali dari waktu itu! Apa kabarmu, sekarang?” tanyanya hampir memekik saking semangatnya, lalu segera merangkul orang di hadapannya.

Lelaki itu tertawa, membalas rangkulan sobat lamanya. “Hahaha. Sudah lama, eh? Kabarku baik-baik saja. Tak ada yang terlalu menarik. Bagaimana denganmu, sobat? Tampak tak ada perubahan juga, eh, setelah sekian tahun tak berjumpa? Masih asyik jadi pengembala?” tanyanya sambil terbahak lepas

Pemuda pengembala ikut tertawa kecil. Sambil melepas rangkulannya, ia menatap lelaki itu sambil tersenyum. “Tak ada yang berubah, huh? Mungkin tidak seperti yang kelihatannya. Hehe,” ia menjawab santai. “Kabarku baik-baik saja, Tuan. Terima kasih telah berkenan menjumpaiku lagi di ujung dunia ini”

Pengembara mengibaskan tangannya, menepis ucapan sang pemuda. “Ah, kau ini, masih saja senang berprosa. Haha. Kau tau, setelah melakukan perjalanan lagi sekian lama, tetap saja aku tidak menemukan orang sepertimu di manapun. Karena itu beberapa waktu lalu aku mendadak merindukanmu, dan taraaa..disinilah aku berada sekarang!” ujarnya lantang dan bersemangat.

Pemuda itu tersenyum, “Hidup bebas yang terlihat menyenangkan, Tuan”

Lelaki itu kembali mengibaskan tangannya, berusaha merendah. Pemuda pengembala itu menatap lelaki dewasa di depannya dengan ketertarikan. “Apa kabar negeri seberang, Tuan? Setelah pembicaraan kita tempo hari yang lalu, apakah ada yang berubah?” tanyanya lembut

Pengembara itu tersenyum simpul, memahami maksud si pemuda. “Well, yah, kau lihat sendiri perubahan pada diriku dari kali terakhir kita bertemu, bukan? Pencarianku akan Tuhan telah berakhir ketika aku bertemu denganmu” ujarnya lalu menatap pemuda itu sambil tersenyum penuh arti. “Dan kau tau, perjalananku atas pencarian kali ini ternyata lebih memusingkan daripada sebelumnya”

“Wah, apakah itu, Tuan, jika aku boleh tau?” tanya pemuda pengembala mulai penasaran.

Pak tua itu berhenti sesaat, sengaja menggoda keingintahuan lawan bicaranya. Sambil menahan geli, ia menatap mata sahabat mudanya. Mata itu, mata seorang anak muda yang jernih namun sarat makna. Ia menggeleng perlahan, rasanya entah kenapa ia tak akan pernah menang melawan kebijaksanaan pemuda ini. Ia pun tersenyum mistis, sebelum berujar, “Kali ini perjalananku adalah… untuk mencari  jawaban…. apakah bahagia itu ada?”

Pemuda pengembala membelalak lalu berdecak serta merta “Ya ampun, Tuan. Entah mengapa pencarianmu selalu dalam, dan membuatku iri” ujarnnya tulus sambil tersenyum. “Lalu, apakah Anda telah menemukan jawabannya?” tanyanya, persis pertanyaan yang diajukannya beberapa tahun silam saat bertemu pertama kali di tempat yang sama dengan sekumpulan hewan ternak yang berbeda.

Dijawab oleh si pengembara, dengan jawaban yang serupa dengan saat itu, “Kurasa, teman, kesimpulanku adalah.. bahagia itu tidak ada.”

Mata pemuda itu berkilau, namun masih tersenyum ramah. “Dan bagaimanakah anda sampai pada kesimpulan itu, Tuan?” Pertanyaan yang sama, seakan mereka sedang memutar waktu.

Kali ini, pengembara setengah baya itu melepas sopan santun ala pedesaan. Dengan acuh ia mengangkat bahunya, “Entahlah, semua orang terlihat memaksakan jawabannya setiap kali kutanya. Ada yang mengaku bahagia, tapi ia mengeluh pada hal-hal kecil. Ada yang mengaku tak bahagia, tapi ia menikmati segala hal di sekitarnya. Manusia, sulit sekali dipercaya apa yang ada di benaknya” ujarnya setengah menggerutu

Pemuda itu mendengarkan dengan takjim. “Bila perkataan mereka sulit dipercaya, bagaimana dengan pengamatan Tuan?” tanyanya kemudian masih tetap bernada sopan seperti sebelumnya.

“Pengamatanku?” tanya sang pengembara retoris. Ia berpikir sejenak. Kemudian menjawab yakin, “Semua orang berpura-pura untuk terlihat bahagia”

Pemuda itu tersenyum, tak berniat membantah.

“Menurutmu?” tanya lelaki itu setelah beberapa saat tak ada tanggapan.

Pemuda tanggung itu menggeleng, “Entahlah, Tuan, tampaknya ilmu saya masih kurang cukup mengenai hal ini” ujarnya merendah. “Tapi… izinkan saya bertanya, Tuan.” Lelaki pengembara mengangguk memberi izin.

“Hm. Menurut Anda, Tuan, apakah hewan-hewan yang saya gembalakan berbahagia?”

Pengembara itu terbahak. "Pertanyaan macam itu?" ujarnya balik bertanya. Namun sejurus kemudian ia tampak sedikit berpikir, dan menjawab dengan yakin, "Tentu saja mereka bahagia!”

"Haha, kenapa anda berpendapat begitu, Tuan?"

"Well, jika kau tanya aku, menurutku mereka bahagia karena, pertama, mereka hewan. Tidak banyak kesulitan dalam hidupnya, bukan? Kedua, mereka memilikmu. Seorang tuan yang teliti dan cakap dalam memberikan perlindungan dan juga dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Tidak ada yang perlu mereka pikirkan dan khawatirkan sama sekali!"

Pemuda itu tersenyum,

“Jika begitu, adakah alasan kita tidak bahagia, Tuan? Bukankah masing-masing kita memiliki "Tuan", yaitu Tuhan yang amat teliti dan penuh kuasa untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan kita? Yang begitu kuasa dan Maha Besarnya Ia sampai-sampai permasalahan kita terlihat sepele seperti apa yang kita lihat pada hewan-hewan ternak saya”

Lelaki pengembara itu sedikit tersentak. Ia lalu mengamati kawan di depannya itu lamat-lamat. Kemudian ia berkomentar, "Memang, kau bahagia, teman?"

"Tentu saja!" jawab sang pemuda pengembala tanpa pikir panjang.

"Ah, kau terlalu cepat menjawab, tanpa berpikir dulu" cibir sang pengembara tampak tak percaya. Namun yang dikomentari hanya tersenyum tenang,

"Perlukah berpikir hanya untuk menjawab kita bahagia atau tidak, Tuan? Justru berpikir, menurut saya, hanya mendefinisikan segala kesederhanaan dan kekuatan kebahagiaan itu sendiri."

"Maksudnya?"


Pemuda itu masih tersenyum ramah, "Menurut saya, Tuan, jika kebahagiaan harus diidentikan dengan tercukupinya semua keinginan, mungkin kesimpulan perjalanan Anda benar: bahagia itu tidak ada. Masalahnya, kita semua tahu, kita tidak sedang hidup di surga.” senyumnya mengembang, “Artinya, dengan keberadaan kita di hamparan bumiNya, kita sedang diberi kesempatan untuk melihat keindahan dari sebuah perjalanan yang tak sempurna.  Sebuah seni kehidupan dari Pengkarya Tanpa Cela.
Ketika luka ataupun senang yang telah berlalu tak lebih dari sekedal bekal.
Ketika buruk ataukah baik masa depan menjadi sebuah harapan dan alasan untuk berjuang.
Ketika saat ini, adalah sebuah hadiah, karena kita telah mendapatkan kejutannya dengan cuma-cuma tanpa mengerti ada apa dibalik semua bungkus tersebut.
Apakah Tuhan sedang bermain? Tidak, bukan?” ia berhenti tanpa melepas senyum “ Karena itu, saya rasa, jika harus menunggu semua hal tepat sesuai keinginan kita, baru  kita mempunyai alasan untuk bahagia, tampak tidak masuk akal, bukan?” lanjutnya ramah.

Pengembara itu tampak berpikir. “Jadi maksudmu…bahagia adalah sebuah pilihan?”

Pemuda itu menggeleng santun, “Bahkan ia bukan suatu pilihan, karena untuk bahagia tidak perlu memiliki alasan. Kita hanya perlu menyambut kehidupan sesuai apa adanya ia.”

Pengembara tersebut masih diam, tampak mempertimbangkan jawaban sang pemuda. Pengembala itu menatapnya dalam, lalu melanjutkan dengan kerendahan hati yang sama,
"Saya iri melihat kehidupan anda yang bebas, Tuan. Terlepas dari bagaimana masa lalu anda yang membuat anda seperti ini. Tapi berkabung atas apa yang telah berlalu atau apa yang belum datang, bukankah membutuhkan energi besar yang tidak perlu? Ide dari ketidaksempurnaan hidup adalah betapa banyaknya faktor yang bisa tidak membahagiakan. Membandingkan dengan orang lain atau waktu lain, terpaku pada angan-angan yang kita ciptakan atas ketidaktahuan kita akan susah senangnya hidup seseorang. Bukankah, itu menariknya perjalanan kita, Tuan? Siapa dan kapankah kesepakatan kebahagiaan itu dibuat? Hanya karena kebanyakan situasi membuat orang mengaku bahagia, bukan berarti arti bahagia untuk stiap orang menjadi sama, bukan? Entah sejak kapan, kita lalu merasa bahagia dan tidak bahagia karena definisi kebahagiaan yang diciptakan orang lain.

Betapa bahagianya makhluk hidup lain di muka bumi ini, hanya karena mereka tidak bisa berpikir. Karena, kesederhanaan dalam memandang yang kita jalani setiap saat adalah kekuatan kebahagiaan itu sendiri." gumamnya.

Dan pengembara itu tersenyum penuh arti, sambil kembali merangkul bahu pemuda sahabat perjalanannya.

Minggu, 08 April 2012

menyaringkan bacaan Al-qur'an

"Di antara manfaat menyaringkan bacaan Al-Qur'an adalah para malaikat yang diutus mendengar zikir, akan menyimak bacaan Al-Qur'an. Setan akan lari tunggang langgang menjauh dari orang yang tengah membaca Al-Qur'an. Rumah menjadi suci dan menjadikannya lingkungan yang kondusif untuk pendidikan dan pengajaran"

Demonstran Shalat,Polisi jadi Imam. Apa ada media yg memberitakannya????


Adalah kisah empat lilin, yang satu per satu mulai meleleh dan padam.
Lilin pertama berkata, ''Aku adalah damai, namun manusia tidak mampu
menjaganya. Jadi, lebih baik aku matikan diriku.'' Pet!

Lilin kedua mulai berkata, ''Aku adalah iman.... Sayang, aku tidak
berguna lagi. Manusia tidak mau mengenalku. Tidak ada gunanya kalau
aku tetap menyala.'' Tiupan angin pun mematikannya dalam sekejap.
Ruangan mulai agak gelap.

Lilin ketiga gantian berbicara: ''Aku adalah cinta. Aku tidak lagi
mampu untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan
menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci pada
mereka yang mencintai. Membenci keluarga sendiri.'' Lilin ketiga pun
padam.

Tiba-tiba, masuk seorang bocah ke ruangan itu. Perasaan takutnya
menyergap. Dia pun menangis, takut pada gelap. Tangisan itu tak lama,
karena dihentikan oleh lilin keempat. ''Jangan takut dan jangan
menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita akan selalu dapat
menyalakan ketiga lilin lainnya,'' kata lilin keempat. Itulah
lilin ''harapan''
Makassar,29 Maret 2012. Demonstran Shalat,Polisi jadi Imam. Apa ada media yg memberitakannya????

by. Richa  Novita

dari Ayah Adjat untuk Teh'Acid ^^ nice :-)

The Only Tool Needed to Create a Spectacular Life

“If all you did was just look for things to appreciate you would live a joyous, spectacular life. If there was nothing else that you ever came to understand other than just look for things to appreciate, it’s the only tool you would ever need to predominantly hook you up with who you really are. That’s all you’d need.”

“Love and appreciation are ...identical vibrations. Appreciation is the vibration of alignment with who-you-are. Appreciation is the absence of everything that feels bad and the presence of everything that feels good. When you focus upon what you want - when you tell the story of how you want your life to be - you will come closer and closer to the vicinity of appreciation, and when you reach it, it will pull you toward all things that you consider to be good in a very powerful way.”

“There are no happier people on this planet than those who decide that they want something, define what they want, get hold of the feeling of it even before its manifestation and then joyously watch the unfolding as, piece by piece by piece, it begins to unfold. That's the feeling of your hands in the clay.”

- Abraham Hicks (Source Level Nonphysical Energy Beings)

bekal untuk "memilih"

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Nak, ramadhan memasuki 10 hari terakhir, Maafkan sudah lama ummi tak menulis pesan-pesan hidup untukmu. Kali ini umi ingin bercerita tentang takdir jodoh. Ummi tak tahu siapa kelak jodohmu dan dengan cara apa kau bertemu dengan pasangan duniamu, namun bolehkan umi bercerita hikmah tentang maha besarnya Allah yang mengatur masalah pertemuan 2 hati manusia dengan keindahan takdirnya

Nak, jika kau bertanya: "Kapan saya menikah?"

Adalah takdir yang bisa menjawabnya
Takdir tak bisa datang segera saat kita pinta, atau malah mendekat kala kita belum siap.

Remah cerita tentang perjalanan seseorang meraih pasangan dunia nya selalu memberikan pembelajaran tersendiri untuk umi, sepanjang umi pernah membantu proses taaruf beberapa ikhwan dan akhwat..., yang paling membuat umi terharu adalah betapa Allah Maha besar dengan cara-Nya mempertemukan hamba-hambanya yang shalih...memiliki niatan yang sama untuk menjalani jalan pernikahan hanya untuk Allah dan agamanya, maka setiap proses itu selalu saja dimudahkan dan berbuah manis...

Unik...kadang membuat kening berkerut dan takjub, kok bisaa yaa mereka dipertemukan dengan sangat indahnya? padahal...tanpa mengenal, tanpa ada interaksi yang panjang dan intens. Duhai Allah...Engkau kuasa dengan ilmu-Mu yang tak terjangkau manusia...kau letakkan kesamaan, keridhoan 2 hati, 2 keluarga,2 kebiasaan, 2 tradisi, 2 perbedaan dengan 1 kemuliaan bernama pernikahan

Suatu waktu Umi pernah dibuat takjub dengan proses ikhwan dan akhwat yang umi dan abi proses sedari mula. diawali dengan tuntunan Allah dalam hati kami, masih ingat waktu itu abi pernah berkata, " mi, kayanya akh fulan cocok deh dengan akhwat fulanah", lalu umi istikharah, dan Allah menuntun hati umi pada pikiran yang sama dengan abi, akhirnya kami coba pertemukan 2 orang ikhwan akhwat ini. saat bertukar biodata, kita dibuat kaget, ikhwan dan akhwat ini ternyata memiliki riwayat keluarga yang sama. mereka sama2 memiliki orangtua single parent karena perceraian, padahal ketika awal proses, kitai tak mengetahui sedikitpun ttg latar belakang yg sama ini.yang akhirnya yg membuat mereka yakin untuk bersatu adalah karena Allah dan tujuan saling menguatkan. Subhanallah, umi dan abi tersenyum nak, dan hingga kini mereka hidup bahagia dalam genggaman takdir Allah yang indah

Kali lain, Umi dan abi memproses dua orang, dengan bekal keyakinan dalam hati akan kecocokan 2 orang ini.dan saat membaca 2 biodata mereka.Haru membuncah, ternyata mereka punya 2 impian yang sama tentang proyek peradabannya, nyaris identik...maka,umi dan abi yakin mereka akan bisa membangun sesuatu yang besar untuk agama ini jika dipersatukan.Dan memang, Allah yang mengatur segalanaya, semua mudah,semua lapang, semua berujung manis. meski pada awalnya mereka tak saling mengenal sama sekali, tak pernah bertatap muka, tak pernah berkomunikasi. Hanya takdir Allah yang membuat semua terjadi dengan mudahnya...

Dan ketakjuban yang lain, umi  pernah mendengan 1 cerita hebat ttg takdir jodoh, seorang ikhwan dan akhwat pernah tergelincir dalam hubungan pacaran kala mereka sama2 jahiliyah. dan saat kuliah mereka menemukan Allah dalam pencarian masing2. Sang ikhwan bertekad akan melpakan sang akhwat meski terselip harap untuk Allah pertemukan, namun ia takut jika Allah tak memberkahi perikahan yang diawali sesuatu yg tak diridhoinya. Bismillah, akhirnya ia sampaikan keinginan utk menikah pada pembinanya dan tawakal siapapun yang akan Allah berikan untuk jodohnya meski bukan wanita masa lalunya. ditempat lain, akhwat yang pernah memiliki masa lalu dg ikhwan tadi memiliki lintasan hati yang sama, ia harus mulai melupakan kenangan masa lalu, dan bersiap menerima masa depan yang baru dengan orang yg baru dalam kehidupannya, ia pasrahkan semua pada Allah...Namun apa yang terjadi, 2 orang murabbi dan murabbiyah yang tak tahu menahu ttg kisah masa lalu mereka mempertemukan mereka dalam penawaran taaruf untuk menikah! mereka sudah dipisahkan jarak yang begitu jauh, mereka uzlah, hijrah untuk menggapai keridhoan Allah. Namun keridhoan Allah atas niat mulia itulah yang membuat mereka dipertemukan lagi dengan cara yang lebih mulia , lebih berkah, dan akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan suci...Duh, Allah yg menggenggam takdir seseorang, sekalipun seseorang prnah jatuh dalam kekhilafan, Cara Allah memaafkan begitu melegakan, Allah berikan hadiah bagi orang yang pasrah dan tawakal akan jodoh terbaiknya...

Dan banyak kisah2 lain yang terkadang membuat air mata umi menetes,Nak. Betapa mulianya Allah mengatur tentang pernikahan. Hingga sesuatu yang tak mungkin akan menjadi mungkin dengan iradahnya.Bahkan kala hitung-hitungan manusia mengatakan ini tak mungkin, namun Allah memiliki hitungan terbaik di arasy nya.semua terjadi dengan kun fayakun Nya...Subhanallah...

Maka, haruskah ada lagi kekhawatiran akan siapa teman hidupmu kelak, Anakku?
jika Allah saja jaminkan dalam surat cinta-Nya, bahwa "laki2 baik untuk wanita yang baik2", bahkan kalimat ini sampai diulang 2 kali, untuk menegaskan bahwa Allah memberitahu hambanya bahwa jodoh yang kita inginkan adalah gambaran diri kita sendiri.

Maka jika Kau ingin mendapat suami sekualitas Ali maka kita harus berjuang menjadi sekualitas Fatimah,meski harus jatuh bangun dan terseok-seok, namun Allah maha Tahu perjuangan kita untuk menjadi hanmaNya yang baik dan pantas untuk pasangan terbaik.

Karena Keniscayaan Allah yang akan pertemukan kita dengan manusia sekualitas dengan diri kita, dari amalan ibadahnya, pemahamannya, potensinya, impiannya, cita-citanya, pandangan hidupnya, bahkan kebiasaan-kebiasaannya. Maka bisakah kau mendapatkan yang terbaik jika kita tak kunjung membenahi ibadah, pemahaman akan jalan ini, impian, potensi dan cita2 dunia dan akhirat kita...?,

dan anakku, ini bukan cerita tentang pamrih.Kita perbaiki diri kita hanya karena 1 tujuan : pasangan hidup. Tak sesederhana itu. Tujuan utama perbaikan diri kita haruslah karena Allah dan agamanya. mebangun kebermaknaan diri agar bermakna bagi ummat manusia. Maka insyaallah kita akan menemukan pasangan yang akan berpikir sama: orang yang terbiasa berbuat untuk banyak orang!

Anakku sayang, umi sellau lantunkan doa dalam setiap shalat umi,meski kau masih sangat belia, agar kau mendapat pasangan hidup yang sekualitas Ali saat kualitas dirimu sehebat Fatimah. Maka dengarkan kata2 umi: tak ada lagi kebahagiaan dunia jika kau sudah temukan imam yang dapat mengajakmu tinggal disurga, bahkan menjadikan dunia seperti surga sebelum kalian menginjakkan kaki di surga sesungguhnya.

Saat kau telah dipertemukan Allah dengan jodohmu, urusan tak lantas menjadi selesai. Kalian harus berjuang untuk menjadi pasangan akhirat kelak. Tak mudah menjadi pasangan dunia-akhirat. Karena semua harus dijalani dengan kesamaan frekuensi dalam keimanan, kesabaran, ketaatan pada Allah selama di dunia. Jika satu saja berbelok dari ketaatan dan tujuan surga, maka bisa jadi 2 orang pasangan dunia tak menjadi menjadi pasangan akhirat. Duh, berat anakku, takut sekali jika umi berbicara tentang hal ini, umi takut dunia begitu melenakan sehingga membuat umi dan abi lupa akan cita-cita surga. maka doakan umi dan abi pun tak hanya menjadi pasangan dunia saja namun menjadi pasangan akhirat yang bisa seindah bidadari...

Anakku...
Terakhir kali umi ingin mengatakan padamu, carilah lelaki yang memiliki impian yan keinginan yang begitu besar akan surga, Karena jika kau bertemu lelaki semacam ini. Semua langkah hidup, pilihan, keputusan untuk diri dan keluarganya akan disandarkan pada Allah pemilik surga. Jangan hanya mencari lelaki hanya karena mapan, prestise, dan kemuliaan yang dicanangkan orang, namun hatinya tak dekat dengan Allah, tak dekat dengan mesjid, tak dekat dengan orang dhuafa. Karena lelaki seperti ini hanya akan membuat kau tersenyum saat di dunia namun menangis di akhirat kelak...

Umi yakin kau akan tumbuh menjadi anak yang tahu betul tentang apa yang harus dilakukan untuk menjadi hamba-Nya yang terbaik dengan jalan pernikahanmu kelak...Semoga kau bertemu dengan lelaki pendamba surga seperti abimu, insyaallah....:')

Peluk cium ummi Teruntuk :
- buah hati,amanah terindah bekalku untuk ke surga : Kahla Almeera Qaulan Tsaqiila, "Ummi mencintaimu seperti ummi mencintai surga"...:')
- Adik-adikku yang dalam perjuangan mencari jodoh terbaik dari Allah, yakinlah bahwa Allah takkan pernah salah, Allah  akan hadirkan pasangan terbaik kala ruhiyah kita ada dalam keadaan mencintai Allah dengan amat sangat:'), berbicara pernikahan bukan sesuatu yang melo, dek. Karena menikah adalah salah satu pencapaian sempurnanya akidah,setengah din kita sempurna dengan menikah. maka jika kita tak sungguh2 merancang ini untuk masa depan surga kita, apalah jadinya nasib kita di akhirat kita nanti?, Jangan takut, jangan menyerah...Allah bersama hambanya yang gigih berjuang mengharap Ridha-Nya...

Sabtu, 10 Maret 2012

UTS? Inilah Kisi-kisinya..give your best


KISI-KISI UTS MATEMATIKA KELAS 8 TAHUN AJARAN 2011/2012
SMP ALFA CENTAURI

1.      Menghitung panjang sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lain diketahui
2.      Mengidentifikasi tiga bilangan triple Pythagoras
3.      Menghitung perbandingan sisi sisi segitiga siku-siku dengan sudut istimewa (salah satu sudutnya adalah 30o, 60o, 45o)
4.      Mengidentifikasi jenis segitiga dengan menggunakan teorema Pythagoras
5.      Menghitung perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku
6.      Menghitung panjang diagonal, sisi, pada bangun datar, misal persegi, persegi panjang, belah ketupat, dsb
7.      Mengidentifikasi  unsur-unsur dan bagian-bagian lingkaran.
8.      Menghitung panjang unsur-unsur pada lingkaran
9.      Menghitung keliling lingkaran
10.  Menghitung luas lingkaran
11.  Menghitung panjang busur, sudut pusat dan luas juring pada lingkaran.

Selasa, 31 Januari 2012

untitled ^^

disela nikmat "waktu luang" yang dimiliki tanpa aktivitas seperti biasanya...
hari ini menyibukkan diri dengan sedikit mengubah-ubah posisi benda-benda di kosan, menata buku-buku yang sudah teracuhkan, serta memilah-milah yang akan dipindahkan karena sudah tak termanfaatkan.

ssstt... menemukan secarik kertas yang sayang jika tidak diabadikan dalam wadah lain.

begini isinya...

Jika kamu menadah air, biarlah berpada...jangan terlalu berharap pada takungannya...
hehe belum paham arti berpada dan takungan, tapi mari kita lanjutkan

dan janganlah menganggap ia begitu teguh...cukuplah sekedar keperluanmu...
Apabila sekali ia retak...tentu sukar sekali untuk menampalnya semula...akhirnya ia dibuang. Sedangkan, jika kamu coba memperbaikinya semula...mungkin ia masih bisa digunakan lagi...

Begitu juga jika kamu memperoleh seorang sahabat yang sejati...terimalah dia seadanya...janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa...anggaplah dia manusia biasa...apabila sekali melakukan kesilapan ...bukan mudah bagimu untuk menerimanya...akhirnya kamu tinggalkan dia,

sedangkan, jika kamu memaafkan, boleh jadi hubunganmu akan bertambah baik...Cintailah karena Allah dan bencilah karena Allah...
Sesungguhnya hak ini merupakan ikatan iman yang paling kuat...


"dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"
(Q.S. Al Anfal: 63)

Sabtu, 07 Januari 2012

SEPUCUK SURAT dari ibu dan Ayah

..Anakku,
Ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku.

Suatu ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup di atas meja, karena penglihatanku berkurang, Aku harap kamu tidak memarahiku. Orangtua itu sensitif
selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.

Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yg kamu katakan, aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”
Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya.
Maaf, Anakku. …Aku semakin tua

Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantu aku bangun, seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan.

Aku mohon jangan bosan denganku. Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan, seperti kaset rusak. Aku harap kamu terus mendengarkan aku.
Tolong jangan mengejekku atau bosan mendengarkanku

Apakah kamu masih ingat ketika kamu masih keccil dan kamu ingin sebuah balon?
Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

… Maafkan juga bauku. Tercium seperti orang yang sudah tua, aku mohon jangan memaksaku untuk mandi, tubuhku lemah…
Orangtua mudah sakit karena mereka rentan terhadap angin. Aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu…

Apakah kamu ingat, ketikakamu masih kecil?
Aku selalu mengejar-ngejar kamu… karena kamu tidak ingin mandi
Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku. Ketika aku selalu rewel. Ini semua bagian dari menjadi tua,. Kamu akan mengerti ketika kamu tua.

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara, bahkan untuk beberapa menit.
Aku selalu sendiri sepanjang waktu. Dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara
Aku tau kamu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan jika kamu tidak tertarik pada ceritaku, aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu.

Apakah kamu masih ingat, ketika kamu masih kecil?
Aku selalu mendengarkan apapun yg kamu ceritakan tentang mainanmu.

Ketika saatnya tiba… dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit. Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku.

MAAF. Kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan.
Aku harap, kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama beberapa saat terakhir dalam hidupku.
Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama,. Ketika waktu kematianku datang,.aku harap kamu memegang tanganku dan memberikan ku kekuatan untuk menghadapi kematian.

Dan jangan khawatir… ketika aku bertemu dengan sang pencipta..aku akan selalu berbisik padaNya. Untuk selalu memberikan berkah padamu, karena kamu mencintai ibu dan ayahmu…

Terima kasih atas segala perhatianmu nak…
Kami mencintaimu.



Dengan kasih yang berlimpah,


Ibu dan Ayah

Minggu, 18 Desember 2011

sedikit bercuap-cuap sebagai pengantar

hai semuanya...

^^ senang sekali rasanya, akhirnya lapak ini jadi juga. Setelah sebelumnya diberi kebimbangan buat gak ya, buat, ngga, buat ngga..hehe finally i created it.

oh ya, rangkaian kalimat yang menghiasi blog baru saya ini bukanlah karya saya ^^v, izin share dari yang empunya. Tidak hanya saat ini,,, ke depannya juga akan lebih banyak karya kawan yang menjadi favorit saya harus rela mereka izinkan untuk saya bagikan buat kalian semua, haha

singkat kata,, sering-sering mampir yaa ke blog anci, mudaah-mudahan banyak yang bisa diambil manfaatnya..

sebaik-baik manusia ialah ia yang paling bermanfaat untuk sesama


dan semoga bsa menjadi secercah kebaikan yang memberatkan timbangan kebaikan buat kita semua

Tentang Saint Seiya dan Keberpasrahan

"Hidup bukan milik kita, kita yang harus beradaptasi dengan hidup", kalimat saktinya Acit beberapa waktu ini
"We do not choose our destiny, the destiny chooses us", kata teman yang lain

Awalnya merasa tidak setuju dengan kedua kalimat di atas. "Ko gitu sih? Bukannya manusia disuruh merencanakan hidupnya? Menentukan jalan apa yang akan diambilnya?, pikir saya. Tapi pertanyaan saya ternyata melupakan dua nilai besar, keikhlasan dan keberpasrahan.
Rencana hidup memang harus dibuat, tapi bukan pasti akan terjadi bukan? Idealnya rencana yang kita buat adalah sebuah proposal yang diajukan padaNya. Bahwa rencana itu akan terwujud atau tidak, semua terserah pada kehendakNya. Karena seringkali kita 'soktahu' menentukan apa yang terbaik untuk hidup kita, atau 'soktahu' menentukan jalan yang kita anggap terbaik untuk mencapai tujuan.
Tentu bukan berarti kita jadi berhenti merencanakan dan berusaha, tapi jangan lupa bahwa apapun yang terjadi; keberhasilan, ketercapaian tujuan, semua adalah karena Dia yang menghendaki, bukan sekedar karena usaha kita.

Ada satu cerita dari Kang Heri bertahun lalu, tentang analogi kepasrahan. "Suka nonton Saint Seiya gak Ti, waktu kecil?", tanyanya. Suka tentu saja, saya penggemar jurus debu2 intan dan Ksatria Emas Aries yang ganteng itu. "Inget ngga kalo pasukan Saint Seiya selalu bertempur sampe berdarah2, sampe teu bisa nanaon lah. Tapi justru pas udah mau kalah itulah biasanya kekuatannya tiba2 nambah, aya naon we nu nambah. Menang aja ujungnya."
Ceritanya fiksi sih, tapi analoginya sangat saya sukai! Sederhana saja, dan masih saya ingat sampai hari ini.

Ada juga kisah yang nyata.Satu cerita di tausyiah pagi MQFM, cerita tentang Siti Hajar yang mencari sumber air untuk Ismail yang kehausan.
Sudah hafal luar kepala tentu dengan ceritanya, bahwa Siti Hajar 7 kali berlarilari melintasi bukit Safa dan Marwah. Terbayang panas teriknya gurun, terbayang lelahnya seorang ibu dengan bayi berlarilari, kurang apalagi usahanya mencari? Tapi apakah setelah usahanya yang sedemikian, sumber air lantas ditemukan? Tidak. Sumber air ditemukan setelah Siti Hajar telah kehabisan harapan dan pasrah, papar Sang Ustadz.
Lalu mengabadilah sumur Zamzam yang digali malaikat, simbol keoptimalan usaha dan kepasrahan Siti Hajar yang didatangi jutaan manusia dari seluruh pelosok dunia setiap tahunnya.

Kenapa harus demikian? Wallahu a'lam, saya sama sekali tidak berkapasitas untuk menyimpulkan. Sekedar yang saya pahami, mekanismenya harus demikian agar manusia tak jadi sombong lantas durhaka dengan keberhasilannya. Lagi2 karena Dia teramat menyayangi hambaNya.. Bahwa saat berhasil setelah memasrahkan diri, kita mendapat 2 hal sekaligus; keberhasilan dan kerendahan hati untuk merunduk padaNya. Bahwa ketika tujuan belum lagi tercapai, kita masih bisa tersenyum karena yakin dan pasrah bahwa di depan pasti ada hadiah terbaik dariNya.
Kepasrahan bukan kelemahan, justru kekuatan dahsyat yang tersimpan. Ia adalah pengundang pertolonganNya yang dirahasiakan. Ia adalah kesadaran bahwa diri ini tiada daya tanpa pertolonganNya. Maka ia adalah merencanakan sebaik2nya, lalu berupaya semampunya, lalu merundukkan hati untuk menerima jalan dan kehendakNya.

"..dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki" (Q.S.Ibrahiim: 27)

by Putri Setiani on Saturday, February 13, 2010 at 8:14am

Allah ingin saya jadi apa ya?

Tersebut di atas adalah pertanyaan yang intensitas kecamuknya meningkat tajam dalam pikiran beberapa waktu terakhir ini. Berikut hasil wawancara saya dengan seorang teman (dengan penyesuaian)


Gimana sih caranya kita tau Allah ingin kita jadi apa?
Tanya aja sama Allah..

Caranya?
Caranya.. Pertama, doa. Tentu.
Istikharah salah satu metodenya. Awali dengan shalat sunat 2 rakaat, ketuk pintuNya dengan sebaik2 cara. Lanjutkan dengan doa, minta dimantapkan tentang apa yang terbaik untuk dien kita, untuk hidup kita dan untuk kelanjutan akibatnya kelak. Minta dijauhkan dari apa2 yang tidak baik. Minta ditetapkan apa yang terbaik menurutNya, lalu hati ini diridhakan menerimanya.

Kedua, ikuti kata hati.
Kenali diri sendiri; apa yang jadi keunggulan alami kita, bidang mana yang secara natural kita mahir melakukannya. Kata Ali ra., siapa yang mengenal dirinya, mengenal Rabbnya.
"Setiap orang dimudahkan melakukan sesuatu yang untuknya kita diciptakan" (H.R. Muslim)

Ketiga, minat.
Hal apa yang menarik perhatian kita, yang kita sukai untuk melakukannya, yang kita ingin untuk memperdalamnya. Mengutip Mario Teguh, "Kebahagiaan adalah ketika kita diapresisasi karena melakukan yang kita sukai".

Keempat, kebutuhan.
Pelajari apa kebutuhan umat, kebutuhan masyarakat, kebutuhan manusia. Pelajari keahlian apa yang dibutuhkan untuk diperdalam. Bagaimana seorang ahli di bidang tersebut dibutuhkan.

Irisan dari keempat hal tadi, itulah yang orang bilang 'passion' atau 'suara jiwa'.


Untuk setiap orang, keempat hal itu pasti beririsankah?
Menyimak ayat berikut;
"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermainmain" (Q.S.21:16)
Bisa disimpulkan bahwa setiap penciptaan adalah untuk suatu maksud. Termasuk penciptaan manusia, penciptaan setiap kita, dimaksudkan untuk satu peran tertentu.
Tentang pencarian irisannya, itu proses. Yang usahanya lebih keras, lebih cerdas, lebih cepat menemukannya.

Usahanya lebih keras? Berarti prosesnya memang try and error?
Tentu.
Tapi try and success lebih baik :)
Dan sekalipun hasilnya 'try'-nya masih 'error', tentu ada balasan yg lebih baik untuk setiap usaha.

***

Baiklah. Saatnya mencari.

"Ya Allah, pilihkanlah yang baik menurut ilmu-Mu, tetapkanlah menurut takdir-Mu, dan berikanlah sebagian dari keutamaan-Mu. Engkau berkuasa dan hamba tidak. Engkau mengetahui dan hamba tidak. Dan Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib."




*Hasil wawancara dengan saudara Rihan. Ulasan yang lebih komprehensif ada juga di buku"Delapan Mata Air Kecemerlangan" karya Anis Matta.*

by Putri Setiani on Thursday, June 10, 2010 at 11:00am

Mari buat mereka terpesona !

Cogito ergo sum, Credo ergo sum…
Aku adalah pemikiranku, aku adalah keyakinanku…

Beginilah memang seorang manusia umumnya menghargai dirinya sendiri, dari apa-apa yang menjadi grand design bagi dirinya sendiri di masa depan. Sehingga tidak perlu heran jika ternyata ada orang begitu yakin menjalani hidupnya, sementara belum ada suatu pencapaian apapun baginya. Bukannya tidak punya pijakan, tetapi pijakan itu terpetakan dengan jelas hanya didalam pikirannya sendiri dan diyakini hanya dalam hatinya sendiri sebagai sebuah tujuan hidup yang paripurna.

Meski demikian, kita tidak hidup diantara kerumunan cenayang. Tidak ada seorang pun yang mampu membaca kedalaman pikiran atau hati seseorang. Sehingga salah besar jika kita mengharapkan orang lain ikut melihat apa-apa yang kita lihat sementara kita tidak pernah menunjukkan apa pun. Tidak mungkin seorang calon sarjana diberi ucapan selamat sebelum benar-benar ia menjadi sarjana.

We value our self from what we intend to do, while others judge us from what we have done

Namun pernahkah kawan-kawan semua tertipu saat menilai seseorang?

Yang dikira terhormat ternyata tercela
yang dikira cendekia ternyata pandir
yang dikira triliuner ternyata miskin hati…

Demikian seorang Andrias Harefa mengupas fenomena mengenai pesona baju dan pesona karakter dalam buku kumpulan artikelnya yang berjudul Mindset Therapy. Disana beliau memaparkan demikian mudah manusia dinilai dari atribut-atribut yang melekat pada dirinya, entah itu harta, tahta, atau kata. Itulah efek dari sebuah kesan pertama, begitu menggoda! Sehingga mampu membuat kita jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukannya bermaksud mengecilkan pesona sebuah ‘baju’, karena pada kenyataannya banyak cerita kesuksesan dimulai dari kesan pertama yang begitu menggoda. Namun pada akhirnya tetap harus saya akui ‘tubuh’ yang sakit tidak pernah bisa ditutupi dengan memakai ‘baju’ yang bagus. Alangkah baiknya apabila semua atribut baik yang terlihat adalah perwujudan dari keindahan yang menyeruak perlahan tapi pasti dari keluasan pola pikir, kedalaman hati dan konsistensi laku pribadi, itulah pesona karakter!

Kemudian yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana cara menebarkan pesona karakter?
Tatkala saya masih duduk di bangku kuliah dulu, pernah satu kali saya terjebak dalam sebuah obrolan ringan di sebuah organisasi kampus yang kami sebut Himpunan. Obrolan itu, entah bagaimana, sampai pada satu pembahasan mengenai konsep sebuah acara bergengsi yang biasa kami sebut kaderisasi (baca: ospek). Ada satu pernyataan sahabat saya yang juga adalah Sang ketua himpunan yang masih terus saya ingat hingga saat ini.

“Dha, kalau kaderisasi isinya cuma pura-pura marah, pura-pura disiplin, maka nanti kader yang kita dapet juga cuma yang pura-pura patuh, pura-pura berkarakter.. Kaderisasi itu cuma trigger aja, pembentukan karakter yang sebenarnya itu nanti, waktu semuanya udah di dalem himpunan.. Nah, makanya yang jadi PR besar kita itu gimana caranya membentuk kebiasaan-kebiasaan positif di himpunan kita supaya kader-kader Himpunan ini bener-bener punya karakter yang bagus…”

Memang, mau dibolak balik seperti apapun juga, tidak mungkin yang namanya karakter dapat diubah atau dibentuk secara instan hanya dengan beberapa kali pertemuan saja. Karakter seseorang biasanya dibangun sebagai hasil induksi lingkungan (termasuk keluarga) dalam waktu lama melalui pembiasaan yang kontinyu. Tapi bukan berarti tidak bisa diubah!

Pernah baca Buku Personality Plus-nya Florence Littauer? Di dalam bukunya itu ia sangat ngotot sekali kalau setiap manusia pasti memiliki salah satu dari 4 karakter dasar yang dominan yang masing-masing sudah memiliki kelebihan dan kekurangan yang khas. Namun, saat ia kemudian (melalui buku yang sama juga) mencoba mengajak pembacanya untuk mengorganisasi Sanguinis yang populer, melunakkan Koleris yang kuat, menggembirakan Melankolis yang sempurna, dan memotivasi si Phlegmatis yang damai, saya menjadi sangat yakin bahwa ada usaha yang bisa kita lakukan untuk meng-improve karakter kita.

Tapi terlepas dari semua teori psikologis yang rumit itu, rasa-rasanya untuk membentuk karakter yang baik tidak perlu metode macam-macam. Cukup lah kita lakukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang positif saja..

dan bersiaplah untuk jadi mempesona.. :)

by Ardha P. Rahardjo on Wednesday, November 24, 2010 at 10:53pm